Monday, 20 February 2017

Dentist dan Gigi Bungsu

Syukurilah dan nikmatilah masa sehatmu sebelum masa sakitmu. Kalimat tersebut mungkin sangat tepat untuk menggambarkan ketika kita diberi sakit, tapi kita tidak menyadari betapa nikmatnya ketika sehat tanpa merasakan hal-hal yang tidak enak ataupun menyiksa. Jadi, seminggu kemarin adalah minggu cobaan saya yang alhamdulillah jadi bisa merasakan hebatnya sakit gigi untuk yang pertama kali dalam hidup saya. Gigi bungsu saya yang bawah kiri tiba-tiba bengkak gusinya dan nyeri sekali. Memang wajar jika seumuran saya (antara umur 18-30an) akan ada proses pertumbuhan gigi geraham baru yang letaknya di rahang paling ujung. Namun, pertumbuhan gigi tersebut untuk setiap orang berbeda-beda. Ada yang tumbuh normal dan tidak. Dan alhamdulillahnya saya dapat rezeki yang tidak normal. Jadilah tetap disyukuri saja, hehe.

Sebenarnya gigi bungsu saya sudah tumbuh, namun nampaknya pertumbuhannya belum sempurna. Awalnya gusi saya yang dekat dengan gigi bungsu tersebut nampak seperti membuka terbelah begitu. Kemudian di esok harinya, saya bangun dengan pipi yang sudah membengkak dan merasakan nyeri yang luar biasa. Setelah dicek ternyata gusi yang tadinya membuka menjadi bengkak dan sebagian menutupi gigi bungsu. Setelah dua hari bertahan dengan minum obat pain reliever berupa ... dan biogesic (semacam parasetamol) sebagai pain reliever. Namun, ketika pengaruh obat-obat ini sudah hilang, nyerinya pun akan datang kembali. Di hari ketiga saya sudah tidak bisa menahan hebatnya nyeri yang muncul. Berkunjunglah saya ke dokter gigi di daerah Dickson yang lumayan dekat dengan rumah saya di Canberra sini. Awalnya rada ragu untuk langsung mendatangi dentist karena treatment untuk gigi tidak tercover di asuransi beasiswa saya, dan biaya di sini tidaklah murah. Namun, karena kondisi kesehatan yang memaksa saya untuk segera sembuh untuk bisa menghadapi college life yang sebentar lagi akan datang, maka suami segera meminjam mobil teman untuk mengantarkan saya ke depan pintu gerbang klinik Dickson dentist surgery tersebut. 

Sesampai di klinik, setelah urusan administratif selesai, duduklah saya di tempat pemeriksaan untuk diperiksa oleh drg. Chamesh namanya. Dokter giginya masih muda, perempuan, dan sangat communicative. Entah memang kebiasaan bule yang suka basa-basi atau untuk mengalihkan perhatian akan sakit, saya disodori berbagai pertanyaan. Mulai dari sudah berapa lama di Canberra, kerja atau sekolah, asal darimana hingga relation saya dengan suami yang duduk di ruang pemeriksaan. Singkat cerita, pembengkakan saya sudah lumayan parah dan terinfeksi juga. Saat pemeriksaan, dokter hanya membersihkan gigi yang bersangkutan. Rasanya sungguh seperti melayang. Sakit banget maksudnya. Setelah itu, dokter akan memberikan obat dengan dosis yang cukup tinggi untuk menangani nyeri dan pembengkakannya. Obatnya adalah metronide yang berupa antibiotik dan neurofen sebagai pain reliever. Keduanya harus diminum dengan dosis 400mg dan diminum tiga kali sehari. Selain itu, dokternya juga menyarankan untuk berkumur salty warm mouthwash (air hangat yang dicampur dengan garam) 4-5 kali sehari. Dokter mengatakan agar saya harus sembuh terlebih dahulu dari pembengkakan untuk melakukan investigasi berikutnya. Investigasi apakah gigi bungsu tersebut tumbuh dengan benar atau tidak berdasarkan hasil dari x-ray struktur gigi saya. Untuk jumlah pembayarannya, karena saya hanya melakukan pemeriksaan saja tanpa adanya additional treatment lain seperti x-ray atau surgery, biayanya sekitar $70. Sedangkan obatnya sekitar $25. Informasi tambahan untuk biaya x-ray kisaran $70 dan surgery kisaran $120.



Menurut tukar pengalaman dengan teman saya yang memilki kasus yang mirip dengan saya. Jika kasus gigi bungsu kita tumbuh dengan benar namun tertutup gusi di sekitarnya, bisa dilakukan operasi perobekan gusi saja tanpa dilakukan pencabutan gigi. Namun, ketika gigi bungsu tumbuh miring ke pipi misalnya, maka gigi seperti ini haruslah dicabut. 

Kesimpulannya, penanganan dokter gigi di Indonesia dengan disini (Canberra) hampir sama, hanya saja range biaya yang ditawarkan akan berbeda mengingat kurs rupiah dan dolar juga berbeda. Selain itu, untuk mengunjungi dokter, kita juga harus membuat appointment terlebih dulu dengan pihak klinik. Bisa by phone atau email terlebih dahulu. Dan tidak perlu khawatir untuk tidak dibalas, karena disini servicenya sangat fast response. Akhir cerita, alhamdulillah ketika saya menulis ini, pembengkakan gusinya sudah mengecil dari sebelumnya dan sudah tidak ada rasa nyeri yang hebat. Hanya saja, saya masih harus menghabiskan obat antibiotiknya agar tidak kambuh kedepannya. Selain itu, ketika besok saya pulang Jogja, saya juga berencana untuk ke dokter gigi untuk melakukan treatment lanjutan gigi bungsu ini. Last but not least, semoga saya selalu diberikan nikmatnya sehat dan senantiasa bersyukur akan berharganya kesehatan dari Allah SWT. Aamiin.

Btw, selamat menjalani kuliah kembali di semester kedua!

Tuesday, 14 February 2017

Masak apa ya hari ini?


 

Yap, sebagai seseorang yang menyandang sebutan baru (istri), saya harus mampu menjawab pertanyaan tersebut setiap harinya. Sejak menikah, atau lebih tepatnya, sejak pindah hidup ke Aussie, saya dan suami mau tidak mau harus bisa survive di kehidupan perdapuran. Untuk tetap menjaga kehalalan makanan apa yang kami makan dan yang paling penting adalah “ngirit”, kami memang selalu memasak sendiri dibandingkan dengan jajan di luar. Namun, di balik usaha tersebut pastilah ada konsekuensinya. Kami harus pintar memutar otak untuk tetap memasak makanan yang enak dan gak mbosenin mengingat bahan makanan disini yang terbatas. Belum lagi jika kami berdua sudah menjalani kehidupan perkuliahan yang hari-harinya selalu dipenuhi dengan tumpukan tugas. Sarapan bisa akan terangkap dengan makan siang, makan siang bisa terangkap dengan makan malam, hingga bisa ada makan tengah malam larut karena laparnya melek bikin tugas. Begitulah kehidupan perkuliahan kami yang begitu jahat hehe.
Sisi alhamdulillah-nya adalah suami saya bisa memasak! (Yeay) Dengan begitu, ketika saya begitu stres dan mual dengan tugas saya, peran saya di dapur bisa digantikan oleh suami saya walaupun suami saya belum bisa memasak sayur-sayuran.

Di masa summer holiday yang akan habis seminggu lagi ini, saya sedang mencoba untuk selalu memasakkan suami dan bereksperimen dengan menu-menu baru walaupun menggunakan bahan makanan yang itu-itu saja seperti kemarin. Mengingat suami yang tidak terlalu suka dengan sayur dan cuman demen sama daging ayam, saya juga harus pintar “memanipulasi” masakan yang notabennya ada sayurnya tapi suami bisa tetep mau makan. Contohnya saja memasak tumis brokoli saos tiram bisa ditambahkan dengan ayam, begitu juga dengan tumis wortel atau buncis. Semua sayur diakali dengan menggunakan ayam hehe. Disinilah saya bisa sedikit bahagia melihat positive thing yang bisa saya lakukan ke suami sejak kami menikah.

Tidak pintar memasak sebelum menikah bukanlah halangan untuk tetap bisa menyediakan makanan enak setiap harinya ke keluarga kita kelak. Karena di situasi seperti itu telah terselipkan “urgensi” yang tidak bisa kita duga-duga sebelum mengalaminya. Intinya adalah belajar dan terus mencoba. Saya sekarang juga jadi sering buka website-website berisi resep, akun-akun instagram yang isinya resep, hingga instal aplikasi yang menyediakan video-video memasak. Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah jeri payah perjuangan saya untuk menjadi istri yang baik dan calon ibu bagi anak-anak saya nantinya. Last but not least, semoga saya selalu dijauhkan dari mengenal lelahnya memasak dan bosannya melakukan kegiatan di dapur, aamiin

Sulitnya mengawali

Sebagai manusia biasa yang mempunyai keinginan satu dan yang lainnya, saya merasa terlalu melemparkan keinginan yang berlatar belakang khayalan. Misalnya saja saya ingin belajar desain, belajar ilmu agama setiap hari, hingga (kembali) aktif menuliskan sesuatu di laman seperti ini. Namun, ekspektasi akan berbeda dengan realita memang benar adanya. Dan memang betul jika mengawali sesuatu tanpa adanya urgensi yang tinggi akan lebih susah terwujudnya.


Memulai semester baru kali ini, saya mencoba sekuat tenaga untuk melawan segala hal yang menjauhkan saya dari ketidak"produktif"an. Semoga segala keinginan, harapan, dan target yang saya punya dapat terealisasi setelah ini! Aamiin..


Semoga juga saya bisa rutin memenuhi laman ini☺️☺️