Sunday, 16 December 2018

Pemeriksaan Kehamilan dengan Bidan di Canberra (1)

Fiuh.. setelah hampir sebulan lebih saya vakum tidak bisa mengisi blog ini, akhirnya kali ini saya akan bercerita kembali disini.

Okay, setelah sebelumnya saya sudah menceritakan pengalaman saya melakukan tes down syndrome kehamilan saya di Canberra disini, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya bertemu dengan bidan untuk pertama kalinya. 

Di Canberra, ibu hamil mulai bertemu dengan bidan di umur kehamilan 16 minggu. Sebelumnya, seluruh pemeriksaan dan konsultasi dilakukan bersama General Practitioner (GP) atau dokter umum.  Rumah sakit yang kami pilih untuk bertemu dengan bidan adalah Calvary Hospital. Sebelumnya kami harus sudah membuat perjanjian dengan pihak antenatal clinic di rumah sakit tersebut. Kami membuat perjanjian dengan direct call ke antenatal clinic. Sebenarnya kami juga dibekali surat referensi dari GP, namun entah mengapa surat tersebut akhirnya malah tidak terpakai. 

Pada 19 Februari 2018, pertemuan pertama dengan bidan diisi dengan berbagai wawancara dan pemeriksaan dasar. Bidannya begitu ramah dan telaten ketika wawancara maupun pemeriksaan. Kami diberikan berbagai berkas yang nantinya akan diisi bersama-sama seiring dengan dilakukannya wawancara. Salah satu berkasnya adalah semacam buku rekam medik yang berisi tentang semua history pemeriksaan dan identitas maupun kondisi saya menurut hasil wawancara. 

Buku rekam medik kehamilan saya.
Hal-hal yang menjadi topik wawancaranya adalah sebagai berikut:

- Family history
  Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan seputar berbagai penyakit turunan dari keluarga dekat. Apakah keluarga dekat kita seperti ayah ibu atau bahkan kakek nenek punya riwayat penyakit turunan seperti genetic problems, hipertensi, diabetes. Selain itu juga diberikan pertanyaan apakah keluarga kita ada yang punya bayi kembar. Hal ini harus diketahui sejak awal agar pemeriksaan ibu hamil yang memiliki keturunan penyakit-penyakit tersebut bisa dilakukan dengan lebih fokus dan lebih diperhatikan. 

- Personal medical history
   Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai medical history yang saya pernah lakukan sebelumnya. Apakah saya pernah sakit parah atau minum obat tertentu dsb. Selain itu, apakah saya punya pengalaman tranfusi darah (bukan donor darah ya). Apakah saya sudah pernah melakukan pap smear. Pertanyaan lainnya juga mengenai riwayat tentang surgical. Apakah saya pernah melakukan operasi besar atau tidak. Dan pertanyaan-pertanyaan mengenai kesehatan mental saya. 

- Past pregnancy details
   Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat hamil sebelumnya. Karena ini adalah kehamilan pertama saya, jadilah bagian ini langsung di-skip. 

- Current health
   Seperti judulnya, topik ini membahas tentang kesehatan saya saat itu. Apakah saya rutin berolahraga, apakah saya mengonsumsi alkohol atau merokok dsb. Selain itu, di bagian ini saya diminta untuk mengisi form yang bernama Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Form tersebut berguna untuk mengukur tingkat depresi saya saat itu. Sungguhlah wajar jika ibu hamil akan cenderung mengalami stres atau bahkan depresi ketika menjalani kehamilan yang sangat mengubah kondisi tubuh dan pikirannya. Apalagi setelah tak berdaya dan kelelahan menjalani beratnya trimester pertama di awal kehamilan. Saat itu, tingkat depresi saya 12 dimana angka normal harus berada di kisaran 10. Jadilah saya ditawari untuk bersedia konsultasi dengan psikolog atau tidak. Namun saya tidak menyetujuinya karena saat itu saya masih merasa tidak perlu. Saya memang orang yang overthinker dengan masalah apapun, dan saya merasa sudah cukup untuk mengobatinya dengan cerita ke orang-orang terdekat seperti suami saya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan mengingat ibu hamil yang sudah mengalami stres pastilah akan mempengaruhi kondisi janinnya juga. 

Penampakan EPDS form.
- Estimated date of birth (EDB)
   Di bagian ini kami membahas tentang hasil ultrasound yang pernah saya jalani. Pertanyaan dasar mengenai hari pertama haid terakhir dsb. Dengan begitu, kami bisa mengetahui hari perkiraan lahir dan bisa menyusun rencana pemeriksaan berikutnya. 

- Baby feeding
   Bagian ini membahas tentang seluk beluk menyusui. Apakah saya pernah menyusui sebelumnya. Apakah sudah mengetahui manfaat menyusui dan apakah keluarga dekat mendukung untuk menyusui atau tidak. 

- Birth preferences
   Di bagian ini saya diberikan informasi mengenai pemberian vitamin K dan vaksin hepatititis B kepada bayi setelah lahir. 

Setelah hasil rangkaian wawancara di atas telah tertulis di buku rekam medik kehamilan, saatnya bidan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur tekanan darah saat itu, mengukur fundal height atau tinggi dari uterus bagian atas sampai pubic bone, dan juga didengarkan suara detak jantung janinnya. Hari itu pertama kali kami mendengar suara detak jantung bayi kami.. sungguh terharu bahagia.. campur aduk rasanya masyaAllah :") Begitu nyata ciptaan Allah SWT dan begitu luar biasa keajaiban perkembangan bayi kami :") Tak henti-hentinya kami bersyukur diberikan janin yang sehat dan tak kurang suatu apa. 

Untuk pemeriksaan-pemeriksaan berikutnya, pemeriksaan dasar selalu akan dilakukan oleh bidan. Jika dihitung, sampai dengan kami back for good meninggalkan Canberra, kami bertemu dengan bidan sebanyak lima kali. Pertemuan pertama kali diisi dengan wawancara panjang dan pemeriksaan dasar. Oya, di pertemuan pertama juga kami sudah menceritakan rencana kami untuk lahiran di Indonesia. Jadilah kami diberikan informasi-informasi dasar sebagai acuan jika sudah dekat dengan hari kami kembali ke Indonesia. 

Pada tanggal 26 Maret 2018, dengan umur kandungan 21 minggu, kami bertemu bidan lagi. Kali ini saya diberikan pertanyaan tentang keluhan-keluhan yang sedang dialami. Waktu itu, keluhan saya yang sedikit mengganggu adalah seringnya buang air kecil. Untuk melihat apakah ada gangguan, saya diminta untuk buang air kecil dan ditampung air seninya untuk dicek oleh bidan. Alhamdulillah, hasilnya pun normal. Keluhan ini memang pasti dialami oleh ibu hamil, jadilah saya mau tidak mau harus menghadapinya hehe. Selain itu, saya diberikan informasi mengenai rencana pemeriksaan Glucose Tolerance Test (GTT) yang akan dilakukan di umur kandungan sekitar 25 minggu. 

Jadilah pada tanggal 27 April 2018 saya mengunjungi ACT Pathology yang ada di Calvary Hospital untuk melakukan tes GTT. Oh ya, untuk melakukan pengambilan darah di ACT Pathology tidak perlu membuat perjanjian terlebih dulu, jadi bisa langsung datang dan melakukan pendaftaran disana. Sebelumnya, saya sudah diberitahu oleh bidan untuk berpuasa semalam sebelum melakukan pengambilan darah. Namun dengan catatan boleh tetap minum air putih. Pengambilan darah dilakukan sebanyak tiga kali. Setiap pengambilan, hasilnya bisa sampai 2-3 tabung kecil. Pengambilan yang pertama dilakukan sesaat setelah datang. Setelah pengambilan darah pertama, saya diberikan satu botol kecil minuman manis untuk diminum. Kemudian pengambilan kedua dilakukan setelah satu jam saya minum minuman manis tadi. Terakhir, pengambilan ketiga dilakukan setelah satu jam dari pengambilan kedua. Pengambilan darah ini dilakukan di lengan tangan dan hanya tangan kanan saya yang kelihatan nadinya. Jadilah tiga kali pengambilan darah tadi dilakukan di tangan saya yang sama dan lubang yang sama. Huhu masih teringat linunya dan bengkaknya. 

bersambung..

Sunday, 4 November 2018

Transportasi di Canberra

Hidup di Canberra selama kurang lebih dua tahun cukup memberikan pengalaman dan pengetahuan untuk saya tentang sistem transportasi di luar negeri. Ada berbagai macam bentuk transportasi yang dapat digunakan di Canberra. Namun karena penduduknya yang sedikit, transportasi umum yang bisa dimanfaatkan tidak sebanyak seperti kota besar lainnya di Australia yaitu Melbourne dan Sydney. Ada transportasi udara yaitu bandara dan transportasi darat seperti bus, kereta, mobil, sepeda motor  ataupun sepeda. Tidak ada transportasi air seperti kapal yang ada di Melbourne atau Sydney. 

  • Bandara udara
Canberra Airport adalah bandara satu-satunya di Canberra. Dulu, Canberra Airport hanya digunakan untuk penerbangan lokal antar kota di Australia seperti Melbourne, Sydney, Perth ataupun Brisbane.  Saya belum tahu pasti alasan mengapa begitu. Namun hasil diskusi saya dengan teman-teman, alasannya mungkin karena Canberra adalah ibukota Australia. Jadilah pemerintah Australia sangat menjaga kemanan kota ini sehingga membatasi orang-orang dari luar untuk langsung datang ke Canberra. Namun, sekarang bandara yang disebut sebagai bandara tersibuk ke-8 di dunia itu perlahan mulai merambah untuk penerbangan internasional. Singapore Airlines adalah airline pertama yang bekerjasama dengan pemerintahan Australian Capital Territory (ACT) untuk rute terbang Canberra-Singapore. Saya pernah menggunakan Singapore Airlines ini untuk mudik ke Yogyakarta. Jadi berangkat dari Canberra naik Singapore Airlines kemudian transit di Singapore, dan dari Singapore menggunakan airline lain untuk langsung menuju ke Bandara Adisucipto. Kabarnya, airline berikutnya yang akan mungkin bekerjasama dengan ACT adalah Qatar Airways. 

Di bandara. Saat kami akan back for good to Indonesia.
  • Transportasi umum
      - Bus

Pada dasarnya, bus di Canberra ada dua jenis. Bus untuk transportasi lokal antar region di Canberra dan bus untuk transportasi ke kota lain di Australia. Bus lokal di Canberra disebut dengan bus ACTION. Untuk armada yang lama berwarna oren jingga dan armada yang baru berwarna hijau putih. Armada bus juga selalu dilengkapi dengan bike rack di depannya untuk menaruh sepeda kita jika kita membawa sepeda. Saya pernah pergi ke National Museum di Canberra dengan menggunakan sepeda bersama suami saya. Namun, karena kelelahan jalan-jalan di museum, pulangnya kami naik bus dari sana dan sepeda kami taruh di bike rack bus yang kami tumpangi.

Armada bus ACTION yang baru beserta bike rack di depannya.
Source: Google
Rute dan jam layanan ACTION bus untuk weekday dan weekend berbeda. Di daerah pemukiman misalnya, bus yang biasa datang 30 menit sekali di rush hour weekday akan menjadi satu jam sekali di hari weekend. Untuk hari Minggu pun, layanan bus akan berakhir lebih cepat dan ketersediaan busnya pun akan juga lebih sedikit dibandingkan dengan hari-hari lain. Namun, semua jadwal dan rute bus dapat kita lihat di Google Maps. Jadi biasanya sebelum saya bepergian menggunakan bus, saya selalu mengecek jadwal ketersediaan bus di hari sebelumnya terlebih dahulu dan membuatkan reminder untuk itu. Karena di GMaps juga sudah dilengkapi dengan estimasi perjalanan menuju halte terdekat (jalan kaki), saya juga jadi bisa lebih prepare dan tidak terburu-buru ketika akan naik bus mengingat jam bus disini yang on-time.

Selain rute dan jam, di GMaps kita juga bisa mengecek halte mana yang harus kita datangi untuk menunggu bus. Namun, terkadang nama halte di GMaps dan di haltenya bisa saja berbeda. Selain halte yang berada di setiap 100 meter di area pemukiman, ada juga depot bus dan stasiun bus yang berada di beberapa suburb besar. Depot bus berguna sebagai tempat istirahat untuk bus-bus yang sedang tidak beroperasi. Sedangkan stasiun bus merupakan tempat banyak halte berada sebagai halte-halte transit utama atau pusat. Depot bus ini berada di suburb Woden, Belconnen, dan Tuggeranong. Sama dengan suburb depot bus, stasiun bus juga berada di City Centre dan Gungahlin.

Terdapat berbagai macam rute bus normal dari satu suburb ke suburb yang lain. Ada juga bus yang tarifnya free yaitu city-loop bus. Bus ini beroperasi di sekitar City dan Braddon dengan frekuensi setiap 10 menit dari jam 7 pagi hingga 7 malam di hari-hari kerja. Selain free bus, bus ACTION juga menyediakan layanan untuk antar jemput sekolah dan antar jemput sekolah bagi siswa-siswa yang memiliki disability khusus.

Untuk pembayaran bus ini bisa dilakukan dengan cash atau pre-paid. Untuk pembayaran cash, terdapat empat macam kategori yaitu adult single, adult daily, concession single, concession daily. Kategori single masih dapat digunakan secara free untuk maksimal transfer 90 menit. Kategori concession dapat digunakan untuk siswa sekolah, full-time tertiary students seperti mahasiswa undergraduate atau post-graduate, seniors card holders seperti orang-orang yang sudah tua dan pemerintah yang memiliki concession card. Biasanya untuk kategori concession ini, ketika akan membeli tiket kepada driver, kita sebagai mahasiswa akan diminta untuk menunjukkan student card.  Pastinya tarif biaya harga student akan lebih ekonomis jika kita bandingkan dengan tarif biaya normal atau adult. Untuk pembayaran pre-paid, pembayaran dilakukan dengan menggunakan sebuah kartu khusus yang disebut dengan MyWay. Kartu pintar ini berisi saldo uang yang bisa kita gunakan untuk membayar tarif bus. Kita bisa mengisi ulang jika saldo di kartu tersebut sudah akan habis.

MyWay Card.
Source: Google
Biasanya ketika kita sedang menunggu bus di halte, kita harus melambaikan tangan terlebih dahulu untuk memberikan sinyal kepada driver bahwa kita ingin naik bus tersebut. Karena jika tidak dan jika tidak ada penumpang yang ingin turun di halte tersebut, bus biasanya tidak akan berhenti. Jika menggunakan tiket atau pembayaran cash, ketika masuk bus dan sudah bayar kita akan menerima secarik kertas dari driver yang dianggap sebagai tiketnya. Ketika ingin keluar bus, kita cukup menunjukkan tiket tersebut kepada si driver. Jika kita menggunakan MyWay card, ketika masuk bus kita cukup menempelkannya ke mesin scanner yang ada di dalam bis (tag on) dan menempelkannya kembali ketika akan turun dari bus (tag off). Dari proses itu kita juga jadi bisa tahu berapa tarif biaya perjalanan kita saat itu dan saldo kita saat itu. Untuk turun dari bus, kita cukup menekan tombol lampu tanda stop di dalam bus dan si driver akan mengerti dan memberhentikan bus di bus stop terdekat. Pengalaman saya selama naik bus di Canberra sangatlah nyaman. Busnya bersih, tidak bau solar, dan selalu on-time. Namun kadang saya juga pernah naik bus ke arah kampus, penumpangnya begitu banyak dan saya harus berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Kekurangan naik bus adalah kita harus selalu aware dengan jam karena harus mengikuti jadwal busnya dan kadang halte ke tempat tujuan kita atau sebaliknya begitu jauh sehingga harus jalan kaki lama terlebih dahulu. 

Mesin scanner MyWay card.
Source: Google
Untuk bus antar kota, jalur Canberra - Sydney dapat menggunakan bus Murrays (www.murrays.com.au) atau Greyhound (www.greyhound.com.au). Sedangkan untuk jalur Canberra - Melbourne hanya dapat menggunakan bus Greyhound. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara kedua jenis bus tersebut. Kedua bus sama-sama bersih dan nyaman. Harganya pun tak jauh berbeda. Untuk naik bus tersebut, kita harus menunggu di terminal bus Canberra yang bernama Jolimont Centre. 

    - Kereta

Di Canberra, hanya ada satu stasiun kereta yang bernama Canberra Railway Station. Kereta ini hanya digunakan untuk transportasi antar kota di Australia. NSW Trainlink, perusahaan kereta di Canberra, menawarkan tiga rute perjalanan antar kota yaitu ke Melbourne, Sydney, dan Eden. Sayangnya saya belum pernah mencoba untuk menggunakan kereta ini. Seringnya naik bus atau pesawat. Namun, untuk informasi lengkap mengenai jadwal keretanya bisa dilihat di link ini. Menurut cerita teman, naik kereta menuju Sydney lebih menyenangkan dibandingkan naik bus atau pesawat. Kita bisa lebih melihat pemandangan hamparan lahan yang luas di perjalanan dan lebih santai. Waktu ketika naik kereta akan sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan naik bus atau naik pesawat. Namun, untuk masalah harga, naik kereta dan naik bus selisihnya hanyalah terpaut sedikit. 

    - Taksi

Lagi-lagi saya belum pernah menggunakan layanan taksi di Canberra. Jadilah saya tidak punya pengalaman bagaimana naik taksi di Canberra. Yang pasti tarifnya akan cenderung lebih mahal dibandingkan dengan transportasi umum lainnya. Pun sama juga di Indonesia. Beberapa perusahaan taksi di Canberra yaitu Cab Express, Elite taxi, dan Silver taxi. Untuk tarif estimasi naik taksi di Canberra dapat dilihat di https://www.taxifare.com.au/rates/australia/canberra/. 

    - Uber

Uber merupakan pilihan transportasi umum yang biasa dipilih oleh orang-orang ketika hari sudah larut malam dan sudah tak ada bus. Dengan hanya menggunakan aplikasi uber, kita bisa memanggil transportasi ini di tempat kita berada. Tarifnya akan disesuaikan dengan jarak tempuh perjalanan kita dan keberadaan kendaraan. Seingat saya, saya hanya pernah sekali menggunakan uber. Waktu itu ketika saya dan suami pulang dari Sydney dengan naik bus. Karena saya baru teler-telernya hamil trimester pertama, saat itu kami lebih memilih pesan uber di terminal Jolimont dibandingkan naik bus di dekat sana. Pembayaran uber tidak bisa dilakukan dengan uang cash dan hanya menerima pembayaran melalui debit card atau credit card. Seperti dengan layanan taksi, tarif uber pasti akan lebih mahal dibandingkan tarif bus namun masih akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tarif taksi.

  • Transportasi pribadi
     - Mobil

Untuk urusan fleksibilitas, banyak orang Indonesia di Canberra yang memilih untuk memiliki mobil  pribadi dibandingkan harus naik transportasi umum. Di Canberra, kita bisa mendapatkan mobil second-hand dengan harga yang murah (pun jika dirupiahkan). Pengalaman saya dan suami, kami mendapatkan mobil bekas dengan model hedge-back bermerk Hyundai Getz keluaran 2007 yang masih memiliki rego atau pajak mobil selama 7 bulan dengan harga $3000. Kalau dihitung, perkiraan pajak mobil selama 3 bulan kira-kira sebesar $300-an sehingga harga mobilnya sendiri sekitar +/- $2400. Untuk Surat Izin Mengemudi (SIM), kita bisa menggunakan SIM kita dari Indonesia. Aturannya, SIM dari Indonesia tersebut haruslah di-translate-kan di Kedutaan Besar Rakyat Indonesia (KBRI) di Canberra. Sebagai informasi, biaya translate tersebut sebesar $35. Namun, selama kurang lebih setahun memiliki mobil, suami tidak pernah men-translate-kan SIM A-nya dan alhamdulillah juga tidak pernah ditegur oleh polisi selama mengendarai mobil. Soalnya kami pikir juga karena di SIM kita dari Indonesia sudah ada bahasa inggrisnya jadilah kami memutuskan untuk tidak perlu men-translate-kannya.

Penampakan mobil kami. Pardon my face.
Untuk mempunyai mobil di Canberra ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah kita memutuskan untuk membeli mobil bekas dari seseorang (karena sepertinya gak mungkin kalau harus beli baru), kita harus memperhatikan apakah mobil bekas yang akan kita beli tersebut mempunyai Road Worthy Certificate (RWC) atau tidak. RWC merupakan surat yang menyatakan bahwa mobil yang akan kita beli tersebut dalam keadaan layak pakai di jalanan. Dengan begitu kita tidak akan merasa tertipu jika kita tidak tahu tentang mesin mobil atau autopart yang lain ketika membeli mobil bekas. Namun, RWC juga tidak bisa sepenuhnya menjamin bahwa mesin mobil bekas yang akan kita beli dalam keadaan yang sangat baik karena dalam pengecekannya pun tidak menyeluruh ke semua bagian mobil tersebut. Selain itu, RWC juga sangat berguna untuk pengurusan balik nama mobil yang akan kita beli dengan catatan bahwa mobil keluar lebih dari 5 tahun dari tahun saat kita beli. Jika mobil yang saya beli keluaran tahun 2007, maka saya harus mempunyai RWC. Jika kita memutuskan untuk membeli sebuah mobil bekas yang tidak menyediakan RWC, dan mobil tersebut keluar di tahun 2007 misalnya, maka kita harus mencari RWC sendiri. Namun jika mobil yang akan kita beli keluaran tahun 2014 misalnya, maka kita tidak perlu mencari RWC untuk urusan balik nama.

Urusan balik nama kepemilikan mobil di Canberra dapat dilakukan di kantor motor registry seperti di Dickson, ACT atau cabang lainnya. Untuk pengurusannya sangat cepat. Pengalaman kami, proses tersebut sudah selesai hanya dalam waktu satu hari. Berkas yang dibutuhkan seperti RWC, identity card, dan bank statement yang berisi alamat rumah kita. Biayanya sekitar +/- $100. Sebagai informasi juga, untuk pembayaran pajak mobilnya bisa kita bayarkan setiap 3 bulan, 6 bulan atau 12 bulan, dan itu terserah kita. Di Canberra, kendaraan bermotor tidak memiliki STNK ataupun BPKB karena semua data kendaraannya sudah tercatat online

Setelah kurang lebih setahun memiliki mobil, ketika kami akan back for good ke Indonesia, kami harus menjual mobil kami. Dengan memasang iklan di berbagai soc-med seperti facebook dan gumtree, mobil kami akhirnya terjual dengan pilihan harga dengan RWC dan masih ada pajaknya selama 3 bulan. Setelah back for good ke Indonesia, kami jadi kangen sekali dengan mobil ini. Walaupun warnany merah ngejreng, ukurannya yang kecil dan harganya yang murah membuat kami sangat nyaman menggunakannya sewaktu di Canberra.

Pengalaman yang saya ingat ketika naik mobil di Canberra adalah orang-orang Canberra mengendarai mobilnya yang kencang-kencang. Awal memiliki mobil saya sempat kaget kenapa begitu, tapi lama kelamaan juga mulai terbiasa. Selain itu, di Canberra kami juga jadi taat aturan sekali dengan selalu menggunakan seat-belt dan tak ada kata nerobos lampu merah di angan kami. Di Indonesia kan yang menggunakan seat-belt hanya pengendaranya saja ya hehe. Kalau di Canberra, semua penumpang harus menggunakan seat-belt dan tak terkecuali. Selain itu, untuk penumpang bayi atau anak-anak di bawah tujuh tahun juga harus menggunakan carseat demi keamanan. 

     - Sepeda motor

Harga sepeda motor di Canberra cenderung mahal dan bahkan lebih mahal dibandingkan dengan beli sebuah mobil bekas. Jenis sepeda motor yang beredar di Canberra kebanyakan adalah motor gede dan scooter matic. Tidak ada sepeda motor jenis bebek seperti yang beredar di Indonesia. Selain harganya yang cenderung mahal, helm nya yang harus full-face pun juga harganya mahal. Jadilah jarang mahasiswa dari Indonesia yang memilih untuk membeli sepeda motor dibandingkan dengan mobil. Karena saya tidak memiliki pengalaman mempunyai sepeda motor alhasil saya tidak bisa menceritakan banyak hal di bagian ini hehe. 

     - Sepeda

Penggunaan sepeda yang lebih santai dan lebih sehat juga menjadi pilihan banyak orang di Canberra. Pun banyak mahasiswa dari Indonesia yang menggunakannya. Selain itu, lingkungan Canberra sangat mendukung untuk para pengguna sepeda. Jalanan sepi dan sudah tersedia jalur khusus untuk pengguna sepeda membuat bersepeda di Canberra menjadi aman dan begitu nikmat. 

Jenis sepeda yang terdapat di Canberra adalah road bike, mountain bike, hybrid, atau commuter. Road bike digunakan ketika bersepeda di on-road dan mountain bike di daerah berbukit atau off-road. Sedangkan hybrid lebih dapat digunakan untuk on-road maupun off-road dan commuter bisa digunakan di on-road dengan jarak tempuh yang lebih pendek. 

Saya dan suami menggunakan sepeda di awal perkuliahan kami selama kurang lebih satu setengah tahun. Kami memilih sepeda jenis road bike karena kami tinggal di dekat city yang jalanan tidak begitu berbukit. Macam sepeda ini juga terdapat jenis untuk man ataupun woman. Kami membeli sepeda yang tentunya second-hand bermerk Giant di sebuah situs perkumpulan jual beli yang bernama gumtree dengan harga sepeda milik suami (man) sebesar $400 dan milik saya (woman) sebesar $250. Untuk perlengkapan lainnya seperti helm dan gembok berupa combination lock seharga masing-masing $60 dan $25 setiap itemnya (Mahal ya :"). Sebenarnya ada yang lebih murah dari harga tersebut, tapi karena kami pikir besok ketika kami akan back for good kami bisa menjualnya kembali maka kami memilih untuk membeli yang sedikit kualitasnya di atas rata-rata. Penggunaan helm ketika bersepeda adalah hal yang wajib di Canberra. Dan ya demi keamanan karena teman saya pernah kepalanya ada yang di-cucuk sama burung magpie ketika bersepeda. Selain helm, hal wajib lainnya adalah gembok kunci karena di Canberra pencurian sepeda yang sangat sering terjadi. 

Waktu berangkat kuliah. Lengkap banget perintilannya haha.
Parkir di pipa air di gedung kantor supervisor karena parkirannya penuh.
Ohya, di Canberra, orang yang menggunakan sepeda tak kenal umur. Dari anak TK sampai orang yang sudah tua pun sangat senang bersepeda kemana-mana. Saya sering melihat ketika jam pulang sekolah, anak-anak TK dijemput orang tuanya dengan menggunakan sepeda. Tidak berboncengan melainkan menggunakan sepeda sendiri-sendiri dan berbaris. Hehe lucu. Selain itu, saya juga pernah melihat ibu-ibu yang menarik child carrier trailer (anaknya ditaruh disitu) ketika bepergian. 

     - Scooter dan skateboard

Selain sepeda, banyak juga orang-orang Canberra yang menggunakan skateboard dan scooter baik manual maupun electric untuk bepergian. Saya juga sempat heran bagaimana bisa seseorang bisa beraninya naik skateboard dengan kecepatan lumayan kencang tanpa takut jatuh. Dan tidak hanya laki-laki, saya pernah lihat seorang perempuan juga naik skateboard untuk pergi kemana-mana. Biasanya pengguna skateboard adalah anak-anak sekolahan maupun mahasiswa sedangkan pengguna scooter lebih ke para pekerja kantoran untuk pulang pergi ke kantornya.

Jadi begitulah berbagai transportasi yang bisa kita nikmati di Canberra beserta pengalaman saya. Semoga informatif dan bermanfaat!


Wednesday, 24 October 2018

Pemeriksaan Down Syndrome Saat Hamil

Melanjutkan cerita tentang kehamilan saya yang pertama disini, kali ini saya akan menceritakan pengalaman ultrasonography (USG) saya yang kedua. Setelah berkutat dengan rasa mual dan keluhan trimester pertama serta asupan vitamin dan asam folat setiap harinya, kehamilan saya menginjak di umur 12 minggu. 

Di Canberra, kehamilan yang sudah menginjak umur 12 minggu harus dilakukan pemeriksaan adanya kemungkinan terkena down syndrome atau tidak. Yap, down syndrome bisa dideteksi sejak dini di dalam kandungan dengan melakukan beberapa pemeriksaan. Ada berbagai macam cara untuk pemeriksaan ini. Di Canberra, pemeriksaan awal dilakukan dengan melakukan USG dan tes darah. Pemeriksaan tersebut disebut dengan screening test. Jika hasil dari tes tersebut menunjukkan probabilitas yang tinggi terkena down syndrome, pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan.

Pada tanggal 29 Januari 2018, saya melakukan USG 12 minggu di Canberra Imaging dan tes darah di Capital Pathology. Saat USG berlangsung, ternyata janin dalam kandungan saya sudah nampak  bagian-bagian tubuhnya. Sungguh bahagia terharu dan campur aduk rasanya saat melihatnya. Di Canberra Imaging, USG dilakukan oleh dokter ahli ultrasonography. Setiap mengecek per bagian tubuh janin saya, dokter selalu memberi penjelasan. Monitor yang dipasang di ruangan USG juga sangat jelas menunjukkan bagian-bagian tubuh janin saya. Ditunjukkan kedua tangan, kedua kaki, kepala, perut, dan juga wajahnya. Untuk mengecek probabilitas down syndrome, pemeriksaan saat USG dilakukan dengan mengukur ketebalan cairan di leher belakang atau tengkuk. Proses ini disebut dengan nuchal translucency. Penebalan ini bisa terjadi akibat janin mengalami masalah pada jantung akibat kelainan kromosom. Jantung tidak bisa memompa darah dengan sempurna sehingga  pinggir badan terdapat penimbunan cairan. Jika tebal cairan tersebut kurang dari 3 milimeter, kemungkinan terkenanya down syndrome rendah, begitu sebaliknya. Untuk tes darah, saya hanya diambil darahnya beberapa botol seperti biasa.

Hasil dari USG, ketebalan leher belakang janin saya sebesar 2.1 milimeter. Sehingga kemungkinan terkena down syndrome pada janin saya rendah. Alhamdulillaah, sangat lega saat dokter memberitahu hal tersebut. Namun, untuk memperkuat hasilnya, kami harus masih menunggu hasil dari tes darah. Sekitar seminggu setelah diambil darahnya, hasil tes darah keluar. Alhamdulillaah hasilnya pun sangat baik. Semua hasilnya berada di level normal. Walaupun screening test ini keakuratannya 80-90%, kami sudah bisa sangat lega. Tinggal doa, doa, dan doa kepada Allah SWT untuk selalu dijaga dan diberikan keselamatan kedepannya. Sekedar informasi yang saya tahu, orang lokal di Canberra tidak akan segan untuk menggugurkan kandungannya jika mengetahui janinnya terkena penyakit keterbelakangan fisik dan mental ini. Sungguh mengerikan bukan.. Makanya kami sangat bersyukur dengan hasil tes yang kami lakukan. Berikut beberapa laporan hasil dari screening test dan hasil USG penampakan janin saya :")

Hasil pengukuran ketebalan cairan belakang leher.

Hasil tes darah.

Penampakan janin saya umur 12 minggu :")

Ohya, setiap saya melakukan tes, hari berikutnya saya segera membuat appointment bertemu general practitioner (GP) saya di Health Service ANU. Biasanya saat bertemu dengan GP, saya selalu diberikan pertanyaan tentang keluhan-keluhan yang saya rasakan dan pastinya membahas hasil dari tes-tes yang telah saya lakukan. Di cerita selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman saya bertemu midwife atau bidan untuk pertama kalinya.

Bersambung...

Tuesday, 23 October 2018

Australian National University - Student Card

Seingat saya, saya mendapatkan student card saat orientation week sebelum masa perkuliahan dimulai. Dengan mengisi formulir yang isinya standar, kemudian diambil fotonya, tanpa menunggu lama student card saya sudah jadi dan siap digunakan. Berikut penampakan student card saya.

Pake coat soalnya waktu itu sedang winter.
Informasi yang tertera di student card yaitu nama lengkap (not including the middle name), expiry date, tanggal lahir, dan nomor mahasiswa. Ada banyak kegunaan dari student card ini. Pada dasarnya kartu ini berguna sebagai identitas kita sebagai mahasiswa. Misalnya saat ujian, kita pasti diminta untuk menunjukkan student card kita. Selain itu, kartu ini juga berguna untuk kartu akses kemana-mana. Ketika kita menggunakan tempat parkir sepeda yang tertutup, kita membutuhkan kartu ini untuk membuka lock tempat parkir tersebut. Kita juga harus menggunakan kartu ini ketika mengakses multi-function device (MFD). Untuk masuk ke gedung perkuliahan ataupun laboratorium pun, kita juga harus menggunakan kartu ini untuk akses masuk (karena pintunya yang sensorik). Selain itu ketika kita ingin periksa ke dokter yang bulk-bill, kita pasti diminta untuk menunjukkan student card kita sebagai kartu identitas di asuransi kesehatan kita. 

Ketika saya lulus dari kuliah S1 di UGM, saya harus mengembalikan kartu mahasiswa saya untuk keperluan yudisium. Jadilah saya tidak punya kenang-kenangan kartu mahasiswa S1 saya. Tapi di ANU, kartu mahasiswanya tidak perlu dikembalikan. Dan tak ada juga urusan yudisium untuk syarat kelulusan. Alhasil saya masih bisa menyimpannya hingga sekarang. Mungkin besok akan saya tunjukkan ke anak cucu saya kalo ibu atau neneknya dulu pernah merasakan kuliah di luar negeri :")


Monday, 22 October 2018

Australian National University - Parking System

Kali ini saya akan menceritakan tentang parking system yang diterapkan di Australian National University. Menurut saya, sistem parkir di ANU ini sangat menarik buat saya. Entah karena saya belum pernah menjumpai sistem seperti ini atau memang saya yang norak haha. Oke, jadi di ANU terdapat berbagai macam jenis tempat parkir. Ada parkir sepeda, parkir sepeda motor, parkir mobil pribadi, dan parkir mobil milik ANU sendiri. Untuk siapa yang akan parkir pun dibedakan seperti khusus untuk staff ataupun bisa untuk mahasiswa atau tamu. Yang lebih menarik, ANU juga menyediakan tempar parkir khusus disability person di beberapa spot. 

Untuk parkir sepeda, terdapat banyak spot di ANU. Ada yang terbuka untuk umum, ada juga yang mengharuskan kita untuk mendaftar terlebih dahulu untuk bisa mengakses area parkir tersebut (tertutup). Untuk yang terbuka, kita tinggal parkir sepeda kita saja tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Untuk yang tertutup, kita harus meminta akses terlebih dahulu. Permintaan aksesnya pun tak sembarangan. Tak semua tempat parkir bisa kita mintai aksesnya. Biasanya permintaan akses parkir sepeda ini sesuai dengan spot gedung perkuliahannya. Untuk cara dan kemana kita harus menghubungi untuk meminta akses, informasinya selalu ada di bagian pintu tempat parkirnya. 

Selama kurang lebih tiga semester, saya masih menggunakan sepeda untuk berangkat ke kampus. Karena gedung perkuliahan saya di CSIT, saya hanya bisa meminta akses tempat parkir sepeda yang berada di area CSIT dan sekitarnya. Untuk case saya, saya meminta akses tempat parkir di sekitar area Ian Ross Building (gedung depannya CSIT). Setelah saya mendapatkan akses parkir, saya bisa menggunakan parkir tersebut dan masuk dengan menggunakan student card. Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil ketika menggunakan tempat parkir sepeda yang tertutup. 

Caranya masuk dengan menempelkan student card kita ke sensor merah itu.  Ini penampakan dari luar.
Ini penampakan dari dalam.
Tempat parkir tertutup.
Di luar tempat parkir tertutup ini, ada tempat parkir terbuka seperti yang tertangkap di gambar.
Sebenarnya, untuk parkir sepeda yang tertutup tidak hanya ada yang harus mendaftar dan menggunakan student card untuk mengaksesnya. Di spot tertentu, ada parkir tertutup yang menggunakan combination lock yang  membutuhkan kombinasi angka untuk mengaksesnya. Namun, biasanya kombinasi angka ini hanya diketahui oleh beberapa orang yang memang stay di gedung dekat area parkir tersebut. Saya mengetahui ini ketika saya ingin kuliah di area kantor teman saya yang PhD, dan saya nitip sepeda saya di tempat parkir di area kantornya. Jadilah saya dikasih tahu kombinasi angka untuk mengakses tempat parkir sepeda disana.

Selanjutnya untuk sistem parkir sepeda motor dan mobil akan lebih kompleks bahasannya. Pada dasarnya sistem parkir kedua kendaraan tersebut sama, hanya saja di setiap spot parkir, area untuk sepeda motor paling hanya ada dua sampai tiga slot. Di Canberra, dominan kendaraan yang digunakan adalah mobil. Untuk sepeda motor pun, jenis yang digunakan adalah motor gede atau motor matic. Tidak ada motor bebek seperti di di Indonesia. 

Untuk parkir kendaraan, ada spot yang gratis dan ada juga yang berbayar. Untuk yang gratis pun ada batasan waktunya. Bisa satu atau dua jam tergantung masing-masing aturan di spot tempat parkir tersebut. Dominan area di ANU, parkirnya berbayar. Namun parkiran berbayar berlaku dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Jika di luar range waktu itu, semua spot parkiran bisa digunakan secara gratis. Untuk sistem pembayaran di dalam range waktu itu, ada tiga macam sistem sebagai berikut.
  • Permit
Ini adalah jenis sistem berlangganan. Sebuah kendaraan dapat didaftarkan untuk berlangganan tempat parkir di ANU dalam range waktu 90 hari. Untuk detail bagaimana cara berlangganan dapat dibaca di link ini. Berlangganan tempat parkir akan sangat menguntungkan jika seorang mahasiswa sangat aktif berada di kampus. Jika mahasiswa yang kupu-kupu mungkin akan terasa rugi jika berlangganan. Hampir semua spot tempat parkir di ANU sangat available untuk para permit holders ini. Dan durasi waktu parkirnya pun tidak terbatas. Untuk sekali berlangganan, kira-kira biayanya sekitar $80 - $90 dalm range waktu 90 hari.
  • Pay As You Go
Sistem parkir ini akan sangat cocok untuk tamu dan mahasiswa yang tidak sering ke kampus. Sistem ini adalah sistem pembayaran yang hanya bayar ketika parkir saja. Pembayaran bisa dilakukan lewat website, aplikasi atau call. Untuk aplikasinya bernama cellOPark. Dengan men-scan barcode yang tertera di papan di area tempat parkir, kita bisa langsung mendaftarkan kendaraan kita di tempat parkir tersebut.  Untuk durasi penggunaannya, selama di aplikasi penggunaan parkir kita masih on-going, kita masih tetap bisa parkir di tempat parkir tersebut. Kita harus men-stop penggunaan tempat parkir tersebut di aplikasi untuk mengakhirinya. Untuk pembayarannya, jika kita melakukannya di aplikasi, kita bisa mengintegrasikannya dengan akun bank kita. Dengan begitu, ketika kita sudah menyudahi parkir kita, akan tertera berapa biaya parkirnya di aplikasi dan kita bisa langsung membayarnya dengan akun bank kita. 
  • Pay and Display (ticket)
Sistem parkir ini biasanya diterapkan juga di supermarket seperti Woolworths. Dengan melakukan pembayaran di mesin yang berada di tempat parkir, kita bisa menggunakan tempat parkir tersebut dengan meletakkan tiket pembayaran di dashboard mobil sebagai bukti. Biasanya mesin pembayaran hanya menerima uang koin. Durasinya bisa bermacam-macam. Bisa satu jam, dua jam atau lebih. Kita bisa memilih durasi waktu yang kita inginkan di mesin. Jika kita ingin memperpanjang durasi waktu parkir kita, kita bisa kembali membeli tiket di mesin pembayaran.

Salah satu contoh papan informasi di tempat parkir ANU.
Source: Google
Mulai setengah masa semester tiga kuliah saya, alhamdulillah saya dan suami memutusukan untuk membeli mobil. Di semester tiga, selama kurang lebih tiga bulan, kami memutuskan untuk berlangganan parkir. Pada waktu itu, kami merasa sangan diuntungkan karena jadwal kuliah kami yang masih padat. Ketika akan kuliah, kita bisa agak mepet datangnya karena tidak perlu mencari spot yang gratisan. Apalagi ketika akan ujian, jelas pemilihan parkir berlangganan akan sangat menguntungkan mengingat saat masa-masa ujian tempat parkir mobil pun akan sangat penuh. Kemudian, di semester empat, karena suami sudah tidak aktif di kampus alias sudah lulus, kami memutuskan untuk tidak berlangganan tempat parkir kembali. Selain itu, saya juga selalu diantar jemput suami dan selalu pulang tenggo, maka akan sangat rugi jika kami berlangganan lagi. Sekalipun ketika kami berdua ingin berada di kampus, kami menggunakan sistem lainnya yaitu dengan aplikasi atau dengan tiket. 

Oya, untuk penertiban per-parkir-an di ANU, ada petugas security yang secara berkala mengecek kendaraan-kendaraan yang sedang parkir. Ada yang mengecek dengan alat atau mesin kecil (saya tidak tahu namanya). Ada juga yang mengecek dengan berkeliling menggunakan mobil yang telah dilengkapi dengan kamera sensorik yang dapat mendeteksi plat-plat kendaraan yang ada di tempat parkir.  Jika ada kendaraan yang melanggar, kendaraam tersebut akan diberikan tiket denda yang harus dibayar. Pelanggaran bisa berupa kendaraan yang sudah habis masa permit-nya tapi tetap parkir, kendaraan yang sudah habis waktu parkirnya, atau kendaraan yang asal-asalan parkir (tidak sesuai pada tempatnya). Tidak tanggung-tanggung, denda yang akan diberikan bisa mencapai $100. Jadilah para pengguna kendaraan cenderung akan berhati-hati untuk parkir di kampus.


Australian National University - Library dan Multi Function Device (MFD)

Kali ini saya akan menceritakan tentang beberapa perpustakaan yang berada di Australian National University. Di ANU, terdapat lima perpustakaan yaitu Hancock, Chifley, Menzies, Law, dan Art & Music. Dari kelima perpustakaan tersebut, perpustakaan yang belum pernah saya kunjungi adalah Art & Music. Mungkin karena letaknya yang jauh dari gedung perkuliahan saya. Perpustakaan yang paling saya kunjungi adalah Hancock dan Menzies. Hancock karena sangat dekat dengan gedung perkuliahan saya dan Menzies karena dekat dengan musholla. 

Jam buka dari kelima perpustakaan tersebut berbeda-beda. Sebagai informasi, rincian waktunya bisa dilihat disini. Pada dasarnya setiap perpustakaan akan buka sekitar pukul 8 pagi waktu setempat. Sedangkan tutupnya bisa berbeda-beda dan yang paling lama tutupnya adalah Hancock dan Menzies.  Selain itu, kedua perpustakaan tersebut tetap buka di hari Minggu. Jadilah kedua perpustakaan itu selalu tetap ramai walaupun sudah malam hari ataupun saat weekend. Terkadang akan ada informasi ketika jam buka sebuah perpustakaan berubah dari biasanya. Bisa dengan alasan sedang maintenance atau alasan lainnya. Berikut ini penampakan kelima perpustakaan di ANU yang (sayangnya) kebanyakan saya ambil dari Google karena saya lupa mengambil gambar. 

Satu-satunya gambar yang saya ambil sendiri saat di Chifley Library
Hancock Library
Chifley Library
Menzies Library
Art & Music Library
Law Library

Pada dasarnya, perpustakaan di ANU berguna untuk meminjam buku (well, of course). Untuk meminjam buku, mahasiswa dapat mengecek availability dari buku yang akan dipinjam di website khusus library di link ini. Dari website tersebut mahasiswa juga bisa tahu buku tersebut berada di perpustakaan mana dan sedang dipinjam oleh orang lain atau tidak. Jika seseorang sedang meminjam buku yang ingin kita pinjam, kita bisa mengajukan request untuk si peminjam mengembalikan buku tersebut. Dan kita akan diberikan update-an oleh library jika buku tersebut sudah available. Sangat mudah dan sistematis bukan?!

Selain itu di perpustakaan ANU terdapat banyak ruang khusus yang dapat digunakan untuk belajar, diskusi, dan tutorial. Di ruang belajar yang terletak di main hall perpustakaan terdapat banyak meja dan kursi yang dapat digunakan untuk belajar para mahasiswa. Di ruang belajar, ada bagian yang dilengkapi dengan personal computer (PC), ada juga yang hanya meja kosong yang dilengkapi dengan colokan listrik. Sedangkan ruang diskusi merupakan ruang khusus yang dapat di-booking oleh mahasiswa untuk belajar atau diskusi secara kelompok. Biasanya disana dilengkapi dengan meja bundar besar, beberapa kursi dan layar monitor untuk men-display bahan diskusi. Di perpustakaan juga terdapat ruang tutorial yang digunakan untuk kelas tutorial yang sudah pernah saya ceritakan disini. Sayangnya saya kurang tahu apakah semua perpustakaan ANU dilengkapi dengan ruang tutorial. Namun yang pasti, semua perpustakaan disana pasti ada ruang belajar dan ruang diskusinya.

Semasa kuliah, saya sering nongkrong di Hancock Library untuk sekedar menunggu kuliah berikutnya atau untuk mengerjakan tugas-tugas. Tempatnya yang sangat nyaman, bersih, dan tidak berisik membuat saya menjadi suka berada di perpustakaan. Padahal semasa saya kuliah S1 di UGM, bisa dihitung jari berapa kali saya mengunjungi perpustakaan. Selain itu, saya juga suka nongkrong di Menzies Library. Biasanya saya akan kesana ketika tempat kuliah saya berada di area dekatnya. Jika masa-masa menjelang mid exam atau final exam, semua ruang belajar di perpustakaan pasti akan selalu dipenuhi para mahasiswa yang sedang belajar dan akan sulit untuk mencari meja kosong.

Selain fasilitas berbagai macam ruang khusus yang dapat digunakan di perpustakaan, fasilitas yang tak kalah penting adalah adanya multi function device (MFD). Mesin ini adalah mesin multifungsi yang dapat digunakan untuk menge-print, men-scan dan mem-fotokopi file. Untuk mengakses mesin tersebut, kita harus menggunakan student card. Sebenarnya mesin ini tidak hanya berada di perpustakaan. Buktinya saya dapat menemui mesin ini di gedung kuliah saya, CSIT. Penampakan mesin ini dapat dilihat sebagai berikut.



Kelebihan dari menggunakan mesin MFD adalah kita jadi bisa meng-upload file kita yang ingin di-print tanpa harus melibatkan USB (flashdisk). Di ANU, kita bisa meng-upload file kita di http://wirelessprinting.anu.edu.au/. Di website tersebut, kita bisa mengatur setting-an print yang kita inginkan. Apakah hitam putih atau berwarna, apakah satu kertas satu atau dua halaman dan sebagainya. Untuk biaya printing-nya, setiap mahasiswa ANU secara otomatis akan diberikan saldo sebesar $40 setiap semesternya. Jika saldo tersebut habis, kita bisa saja menambah saldonya sendiri. Namun, jika dalam satu semester saldo tersebut masih ada, besar saldo tersebut tidak akan diakumulasikan di semester selanjutnya. Di website printing tadi, kita juga bisa mengetahui saldo sesaat kita berapa dan rincian biaya printing kita saat itu. Ini sangat memudahkan sekali untuk kita, mahasiswa, yang selalu bergelut dengan file printing

Saturday, 20 October 2018

Pemeriksaan Kehamilan Pertama

Hari itu berjalan seperti biasanya, tak ada juga hal spesial yang terjadi hingga akhirnya sebuah momen membuat saya dan suami terperanjak bersama. 5 Desember 2017, hari dimana saya menemui garis dua berjajar muncul di sebuah alat pengecek kehamilan. Sebenarnya sudah dari bulan sebelumnya jadwal tamu bulanan saya mundur dari biasanya. Dan, bulan itu juga saya sudah mencoba untuk mengecek dengan alat tersebut. Namun, hasilnya masih menunjukkan satu garis. Hingga akhirnya saya ternganga melihat dua garis muncul di alat tersebut. Alhamdulillahirrabil'alamin.. apakah ini memang sudah saatnya Allah memberikan amanah kepada saya dan suami seorang buah hati. Saking bahagianya dan kagetnya, pikiran saya malah jadi nge-blank. Langsung terpikirkan bagaimana kehidupan saya kedepannya yang masih ada tanggungan kuliah satu semester dan masih ada thesis yang mau tidak mau harus selesai tepat pada waktunya. Tapi itulah letak tantangan level kehidupan yang akan meningkat bukan? Jadilah saya selalu memberikan sugesti positif kepada diri saya kalau saya mampu dan saya bisa melewati ini. 

Dua garis :")
Tak lama setelah hari itu, saya dan suami mendatangi dokter untuk memastikan kehamilan ini. Di Canberra, pemeriksaan kandungan selalu diawali dengan menemui dokter umum atau General Practitioner (GP). Praktis kami mengunjungi GP di ANU yang langsung bisa bulk-bill pembayarannya. Awal pertemuan kami, saya diberikan beberapa pertanyaan seperti kapan hari pertama menstruasi terakhir, berat badan, dan keluhan-keluhan yang sudah dirasakan. Dokter juga mengecek perut saya apakah kehamilan sudah bisa teraba dengan tangan atau belum. Dengan mengetahui hari pertama menstruasi terakhir, GP bisa menghitung berapa perkiraan umur kandungan saya saat itu. Alhamdulillah, kandungan saya saat bertemu dengan GP pertama kali sudah berumur kurang lebih 6 minggu. Langkah selanjutnya, saya diminta untuk melakukan ultrasonography (USG) pertama (umur kandungan kurang dari 12 minggu) dan tes darah secara keseluruhan. Di sini, pemeriksaan apapun dilakukan oleh orang yang benar-benar ahlinya. Untuk keperluan USG, kami harus mendaftarkan diri ke bagian pemeriksaan khusus yang menangani pengambilan gambar. Di Canberra dinamai dengan Canberra Imaging. Sedangkan untuk keperluan tes darah, di Canberra terdapat dua macam pilihan yaitu ACT Pathology dan Capital Pathology. 

Singkat cerita, saya melakukan USG untuk pertama kali pada tanggal 4 Januari 2018. Pada dasarnya USG pertama ini berguna untuk memastikan berbagai hal seperti apakah janin berada di dalam rahim, berapa jumlah janin, dan hari perkiraan lahir. Alhamdulillah hasil USG pertama ini semua dalam keadaan baik, janin berada di dalam rahim dan jumlahnya satu hehe. Berikut beberapa gambar hasil USG pertama saya di umur kandungan sekitar 8 minggu. 








Untuk tes darah sendiri, pada waktu itu saya diambil darahnya hingga 4 botol untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tes darah tersebut meliputi pemeriksaan thyroid, rhesus, iron, Hb, hepatitis B, syphilis, rubella, vitamin D, HIV, varicella, dan masih banyak pemeriksaan kandungan darah lainnya yang lebih rinci. Singkat cerita, setelah hasilnya keluar, ternyata saya dinyatakan kekurangan vitamin D dan antibodi rubella (campak jerman) dalam tubuh saya di bawah normal.  Sebenarnya untuk wanita berjilbab di Australia memanglah wajar jika bisa kekurangan vitamin D mengingat cuaca Aussie yang cenderung selalu mendung dan susah mendapat paparan matahari. Jadilah saya harus mengonsumsi suplemen vitamin D. Selain itu, karena rubella sering menyerang pada anak-anak, saya disarankan untuk menjauhi public space terlebih dahulu untuk mencegah adanya penularan yang tidak diinginkan. Sebenarnya rubella terdapat vaksinasinya, namun karena vaksin rubella tersebut bersifat hidup, maka dilaranglah pemberian vaksin rubella kepada ibu hamil. Saya sempat shocked setelah mengetahui bahwa antibodi rubella dalam tubuh saya rendah. Karena saat googling-googling, dikatakan jika seorang ibu hamil terkena rubella, sangat fatal akibatnya. Alhasil saya kurang lebih tiga bulan tidak pernah pergi ke public space. Saya pergi hanya rumah-kampus dan tidak berani untuk pergi ke supermarket ataupun mall.

Setelah mengetahui saya hamil, otomatis saya harus menjaga asupan. Selain itu, saya juga mengonsumsi suplemen asam folat satu tablet dan suplemen vitamin D dua tablet setiap harinya. Berikut penampakan dari suplemen-suplemen tersebut yang saya minum setiap harinya. 

Asam folat
Vitamin D
Hari-hari menjalani kehamilan pertama saya pada awalnya masih terasa menyenangkan. Saya tak merasakan keluhan-keluhan yang berarti hingga akhirnya momen-momen yang tak terlupakan datang. Momen-momen dimana saya merasakan mual yang sangat dan muntah beberapa kali. Yang paling parah, indera penciuman saya menjadi sangat sensitif. Saya pasti akan sangat mual ketika mencium bau tidak enak. Mulai dari bau masakan, bau lemari es, bau tempat sampah hingga bau kamar mandi. Selain itu, saya pun juga akan sangat mual ketika kelamaan sikat gigi. Sungguh terheran-heran saya dengan kondisi saya saat itu. Alhasil, kurang lebih tiga bulan sampai empat bulan awal kehamilan, saya tidak bisa memasak dan mencuci piring sama sekali. Alhamdulillah, ada suami yang selalu siap sedia untuk itu. Selalu mendampingi, mendukung, dan selalu siaga untuk menolong saya yang sedang dalam kondisi tak berdaya. 

Bersambung...