Friday, 22 February 2019

Pemeriksaan Kehamilan di Jogja (RSIA Sadewa)

((Bismillah saya akan membiasakan untuk menulis satu konten setiap harinya.. doakan sayaa..))

Okay, setelah cerita di pertemuan terakhir dengan bidan di Canberra, akhirnya saya kembali di Indonesia. Untuk pemeriksaan kehamilan saya di Indonesia, atau di Jogja lebih tepatnya, saya sudah mencaritahu beberapa referensi dokter kandungan yang ada di Jogja. Mulai dari googling-googling, baca pengalaman orang-orang di blog, dan tanya-tanya ke kakak ipar yang sudah beberapa kali melahirkan. Dan akhirnys saya memutuskan untuk memilih dr. Ayu Wityasti, Sp OG. Kenapa? ya karena kakak ipar saya sudah berpengalaman dengan beliau dan katanya enak dan nyaman. Dan setelah googling-googling tentang dokter Ayu ini, saya menyimpulkan memang untuk memilih dokter kandungan adalah preferensi masing-masing. Banyak yang mengatakan merasa nyaman, dan banyak juga yang menyatakan jika beliau kurang sabar dsb. Jadi dengan mengucap bismillah, saya langsung saja memilih beliau untuk menjadi dokter kandungan saya waktu pulang ke Jogja.

Anyway, dokter Ayu ini awalnya praktek di Rumah Sakit Sakinah Idaman yang letaknya di Jalan Monjali. Kemudian entah kenapa, sekarang beliau berpindah ke Rumah Sakit Sadewa yang ada di Babarsari. Oleh karena itu, saya harus periksa ke Sadewa untuk bertemu dengan dokter Ayu. 

Seminggu sebelum kepulangan saya, saya sudah mendaftar online untuk periksa dengan dokter Ayu di Sadewa melalui website resminya. Jadilah di hari kedua setelah kedatangan saya di Jogja, saya pergi ke Sadewa untuk periksa kandungan. Karena saya baru pertama kali periksa disana, saya harus mengurus administrasi pendaftaran terlebih dahulu dengan mengisi formulir pendaftaran. Setelah selesai, saya diberikan semacam kartu identitas dan nomor antrian di poli kandungan. Kemudian, berkas saya langsung diberikan ke mbak-mbak yang mengurusi pendaftaran di poli kandungan. Sebelum dipanggil masuk, saya mendapatkan antrian lagi untuk pengecekan tekanan darah dan penimbangan berat badan. Selain itu, karena saya periksa untuk pertama kalinya, saya sempat diberikan beberapa pertanyaan seperti riwayat kehamilan, riwayat penyakit dan buku rekam medis kehamilan saya. Namun, karena buku rekam medis saya berbahasa inggris, mbaknya tidak jadi menelitinya dan langsung mengatakan jika nanti langsung ditunjukkan kepada dokter Ayu saja. Hehe baiklah.

Oh ya btw di Sadewa ini, poli kandungannya ramai sekali, banyak pasangan muda maupun gak muda berjejer menunggu panggilan masuk periksa. Mungkin karena Sadewa ini sangat pro dengan masyarakat menengah ke bawah ya hehe. 

Okay, setelah masuk bertemu dengan dokter Ayu, kami berbincang cukup panjang. Mulai dari cerita pengalaman periksa kandungan di Canberra, tes-tes apa saja yang dilakukan disana hingga suplemen-suplemen apa yang diberikan sebelumnya. Semua berkas dari Calvary Hospital saya tunjukkan ke dokter Ayu. Tapi sepertinya berkasnya ya hanya dilihat-lihat saja sambil mengagumi betapa detail dan terstruktur pemeriksaan kandungan di luar negeri. Dan saya pun hanya mengiyakan sambil heha hehe. 

Sampai pada waktunya saya bercerita tentang hasil tes darah yang saya lakukan di Canberra. Saya bercerita jika saya disarankan oleh dokter disana untuk segera imunisasi rubella sesaat setelah melahirkan. Tapi ternyata jawaban dokter Ayu cukup disayangkan. Di Indonesia imunisasi rubella ini hanya tersedia untuk anak-anak dan tidak ada untuk orang dewasa. Whaaa.. batin saya rada kaget sebenarnya. Tapi memang ternyata, karena di Indonesia juga tidak terlalu diwajibkan untuk menjalani tes darah detail seperti yang saya lakukan dulu, jadilah ibu-ibu hamil di Indo juga tidak terlalu aware dengan hal-hal seperti ini. Padahal jika diingat ketika saya diberitahu GP saya harus waspada karena tidak ada antibodi rubella di tubuh saya, saya sungguh menjadi ketakutan. Hampir 3 bulan lamanya saya menjauhi public space dan hanya di rumah. Tapi ketika sampai di Jogja dan cerita panjang lebar tentang hal ini, dokternya bisa santai-santai saja menanggapinya hehehe.

Yap, setelah cerita panjang lebar, akhirnya saya di-USG. Daaan terkejutnya lagi (tapi masih dibatin dalam hati saja), monitor USG saat periksa waktu itu blur sekali jika dibandingkan waktu di Canberra :"). Namun oleh dokter Ayu, kami selalu diberitahu dimana letak plasenta, diukur berapa berat dan ditunjukkan beberapa bagian tubuh calon bayi kami. Walaupun blur, kami pulang dengan membawa hasil print-out dari USG tersebut. Sebelum pulang, saya juga konsultasi dengan suplemen apa saja yang harus saya tetap minum dan adakah suplemen tambahan lain yang harus saya minum. Dan ternyata saya harus ditambahi minum vitamin C dan minum susu ibu hamil setiap harinya. Kata dokter Ayu bisa vitamin C apa saja dan susu apa saja. Tapi seingat saya, hanya bertahan beberapa hari saja saya bisa minum susu ibu hamil. 

Setelah pertemuan pertama dengan dokter Ayu tersebut, saya diminta kembali 2 minggu lagi. Dan setelah 36 minggu umur kandungan, seminggu sekali. Sebenarnya ketika periksa tidak ada hal signifikan yang bisa diceritakan. Yang pasti ketika periksa akan dicek tekanan darah, ditimbang berat badan, ditanyakan mengenai keluhan yang dirasakan, USG, dan diukur berat janin dalam kandungan. Namun ada dua hal menarik yang saya ingin ceritakan di postingan selanjutnya yaitu cerita bagaimana saya mengontrol berat janin saya dan cerita pengalaman saya senam hamil di Sadewa. Jadi, tetap stay tuned ya! 



Thursday, 21 February 2019

Pemeriksaan Kehamilan dengan Bidan di Canberra (2)

Akhirnya saya kembali... Alhamdulillaah..

Terakhir saya bercerita, saya sedang menjalani pemeriksaan GTT. Alhamdulillah hasilnya baik semua, mulai dari fasting glucose, 60 minutes glucose hingga 120 minutes glucose. Selain hasil mengenai kandungan gula dalam darah saya, pemeriksaan lain seperti kandungan zat besi dan Hb juga dilakukan. Hasilnya menunjukkan jika tubuh saya kekurangan zat besi. Kata teman-teman memang wajar jika bisa kekurangan zat besi mengingat perkembangan janin dalam kandungan yang akan menyerap zat besi dalam jumlah banyak dari tubuh ibu. Jadilah saya diberikan suplemen zat besi (suplemen lagi...) yang harus diminum setiap harinya. 

Suplemen zat besi.
Singkat cerita, selama kami bertemu dengan bidan, kami melakukan berbagai pemeriksaan fisik maupun jiwa. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengukur panjang fundus, mengecek tekanan darah dan memperdengarkan suara detak jantung janin. Pemeriksaan jiwa dilakukan dengan mengisi berbagai formulir pertanyaan seperti EPDS yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Selain EPDS, terdapat form yang bernama Perinatal PsychoSocial Assessment (PPSA). Sebenarnya isinya juga mirip-mirip dengan EPDS, tapi PPSA ini lebih berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain terlebih orang terdekat kita seperti pasangan dan keluarga. Dengan menggunakan form ini, bidan dan rumah sakit bisa mengetahui apakah ibu hamil yang sedang ditangani ini merasa sehat secara kejiwaan. Dalam artian tidak mengalami depresi atau stres yang berlebihan yaa. Karena hal ini akan sangat berpengaruh dengan proses pemeriksaan selanjutnya dan saat proses melahirkan nanti. Lagi-lagi kami dibuat terheran-heran mengapa begitu detail pemeriksaan kehamilan disini. Tapi lagi-lagi juga kami mengucap syukur bisa diberikan kesempatan seperti ini hehe. 

Form PPSA.
Selain pemeriksaan kejiwaan, bidan juga mendiskusikan tentang berbagai hal dengan saya. Salah satunya adalah mengenai antenatal breastfeeding atau perihal menyusui. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh bidan. Berapa lama saya akan menyusui, apakah saya nyaman menyusui di depan orang lain, apakah saya didukung penuh oleh keluarga untuk menyusui hingga riwayat penyakit yang pernah dialami yang berkaitan langsung dengan kegiatan menyusui. Pertanyaan-pertanyaan mengenai perubahan payuda** pun didiskusikan bersama. Apakah bentuknya berubah ketika hamil, apakah putingnya semua menonjol atau tidak hingga riwayat penyakit berkenaan dengan payuda**. Btw, untuk menonjol atau tidak putingnya ini sangat penting untuk diketahui mengingat hal tersebut berpengaruh kepada latch-on saat besok menyusui. Dan, jika tidak menonjol proses menyusui pasti akan menjadi lebih sulit dan harus dicarikan solusinya. Kapan-kapan kita bahas tentang seluk beluk menyusui yaa hehe. 

Pada usia kandungan 20 minggu, saya melakukan pemeriksaan USG kembali. Ini adalah usg ketiga dan menjadi usg terakhir saya di Canberra. Kali ini, saya dirujuk oleh bidan untuk melakukan usg di rumah sakit yang sama tempat saya bertemu dengan bidan yaitu di Calvary Hospital. USG 20 minggu dilakukan untuk melihat anatomi dan morfologi dari janin dalam kandungan. Apakah semua bagian tubuh janin sudah terbentuk dan lengkap. Prosesnya pun lumayan lama karena dokternya memperlihatkan satu per satu bagian tubuh calon bayi kami hingga detail. Mulai dari jumlah jari tangannya, jari kakinya, perutnya, kepalanya, hingga penampakan wajahnya. Masyaa Allah sekali :").. Disini dokter juga memastikan dimanakah letak plasenta berada. Yang normal, plasenta akan berada di atas dan tidak menutupi jalan lahir bayi nantinya. 

Di pertemuan kedua terakhir dengan bidan, saya diberikan dua macam vaksin yaitu vaksin flu dan whooping cough. Kedua vaksin ini diberikan untuk ibu hamil mengingat saat itu adalah masa-masa datangnya musim winter. Oh ya, untuk vaksin flu ini sebenarnya bisa didapatkan gratis di ANU Health dengan menunjukkan student card saja. Namun, karena saya tidak mau ribet harus berpindah-pindah tempat, saya langsung ikut saja dengan rujukan dari bidan saya waktu itu. Jadilah saya harus merogoh kocek lagi untuk membayar kedua vaksin ini karena reimburse-nya hanya sedikit yang ter-cover. 

Selanjutnya, di pertemuan terakhir dengan bidan, sayangnya saya tidak berjumpa dengan bidan yang biasa saya temui karena sakit. Jadilah saya harus bertemu dengan bidan lain. Seperti biasa, pemeriksaan dasar pasti dilakukan. Selain itu, kami diberikan semua copy berkas-berkas pemeriksaan saya selama di rumah sakit itu untuk digunakan di Indonesia. Saya juga dirujuk ke dokter kandungan disana untuk keperluan permintaan surat ijin terbang yang mungkin akan ditanyakan saat flight saya ke Indonesia. Awalnya untuk surat ijin terbang ini saya dirujuk untuk minta ke GP saya. Namun karena pemeriksaan bersama bidan sebelumnya tidak pernah diberitahukan kepada GP, maka GP saya tidak berani untuk memberikan surat ijin terbang ini. Maka dari itu, saya dirujuk oleh bidan pengganti tadi untuk minta surat ijin ini kepada dokter di rumah sakit saja. 

Setelah pemeriksaan terakhir itu, saya sudah tidak melakukan pemeriksaan-pemeriksaan lagi di Canberra hingga back for good ke Indonesia. Cerita selanjutnya, saya akan menceritakan pemeriksaan kehamilan saya di Jogja yaa hehe.. 



Sunday, 16 December 2018

Pemeriksaan Kehamilan dengan Bidan di Canberra (1)

Fiuh.. setelah hampir sebulan lebih saya vakum tidak bisa mengisi blog ini, akhirnya kali ini saya akan bercerita kembali disini.

Okay, setelah sebelumnya saya sudah menceritakan pengalaman saya melakukan tes down syndrome kehamilan saya di Canberra disini, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya bertemu dengan bidan untuk pertama kalinya. 

Di Canberra, ibu hamil mulai bertemu dengan bidan di umur kehamilan 16 minggu. Sebelumnya, seluruh pemeriksaan dan konsultasi dilakukan bersama General Practitioner (GP) atau dokter umum.  Rumah sakit yang kami pilih untuk bertemu dengan bidan adalah Calvary Hospital. Sebelumnya kami harus sudah membuat perjanjian dengan pihak antenatal clinic di rumah sakit tersebut. Kami membuat perjanjian dengan direct call ke antenatal clinic. Sebenarnya kami juga dibekali surat referensi dari GP, namun entah mengapa surat tersebut akhirnya malah tidak terpakai. 

Pada 19 Februari 2018, pertemuan pertama dengan bidan diisi dengan berbagai wawancara dan pemeriksaan dasar. Bidannya begitu ramah dan telaten ketika wawancara maupun pemeriksaan. Kami diberikan berbagai berkas yang nantinya akan diisi bersama-sama seiring dengan dilakukannya wawancara. Salah satu berkasnya adalah semacam buku rekam medik yang berisi tentang semua history pemeriksaan dan identitas maupun kondisi saya menurut hasil wawancara. 

Buku rekam medik kehamilan saya.
Hal-hal yang menjadi topik wawancaranya adalah sebagai berikut:

- Family history
  Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan seputar berbagai penyakit turunan dari keluarga dekat. Apakah keluarga dekat kita seperti ayah ibu atau bahkan kakek nenek punya riwayat penyakit turunan seperti genetic problems, hipertensi, diabetes. Selain itu juga diberikan pertanyaan apakah keluarga kita ada yang punya bayi kembar. Hal ini harus diketahui sejak awal agar pemeriksaan ibu hamil yang memiliki keturunan penyakit-penyakit tersebut bisa dilakukan dengan lebih fokus dan lebih diperhatikan. 

- Personal medical history
   Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai medical history yang saya pernah lakukan sebelumnya. Apakah saya pernah sakit parah atau minum obat tertentu dsb. Selain itu, apakah saya punya pengalaman tranfusi darah (bukan donor darah ya). Apakah saya sudah pernah melakukan pap smear. Pertanyaan lainnya juga mengenai riwayat tentang surgical. Apakah saya pernah melakukan operasi besar atau tidak. Dan pertanyaan-pertanyaan mengenai kesehatan mental saya. 

- Past pregnancy details
   Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat hamil sebelumnya. Karena ini adalah kehamilan pertama saya, jadilah bagian ini langsung di-skip. 

- Current health
   Seperti judulnya, topik ini membahas tentang kesehatan saya saat itu. Apakah saya rutin berolahraga, apakah saya mengonsumsi alkohol atau merokok dsb. Selain itu, di bagian ini saya diminta untuk mengisi form yang bernama Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Form tersebut berguna untuk mengukur tingkat depresi saya saat itu. Sungguhlah wajar jika ibu hamil akan cenderung mengalami stres atau bahkan depresi ketika menjalani kehamilan yang sangat mengubah kondisi tubuh dan pikirannya. Apalagi setelah tak berdaya dan kelelahan menjalani beratnya trimester pertama di awal kehamilan. Saat itu, tingkat depresi saya 12 dimana angka normal harus berada di kisaran 10. Jadilah saya ditawari untuk bersedia konsultasi dengan psikolog atau tidak. Namun saya tidak menyetujuinya karena saat itu saya masih merasa tidak perlu. Saya memang orang yang overthinker dengan masalah apapun, dan saya merasa sudah cukup untuk mengobatinya dengan cerita ke orang-orang terdekat seperti suami saya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan mengingat ibu hamil yang sudah mengalami stres pastilah akan mempengaruhi kondisi janinnya juga. 

Penampakan EPDS form.
- Estimated date of birth (EDB)
   Di bagian ini kami membahas tentang hasil ultrasound yang pernah saya jalani. Pertanyaan dasar mengenai hari pertama haid terakhir dsb. Dengan begitu, kami bisa mengetahui hari perkiraan lahir dan bisa menyusun rencana pemeriksaan berikutnya. 

- Baby feeding
   Bagian ini membahas tentang seluk beluk menyusui. Apakah saya pernah menyusui sebelumnya. Apakah sudah mengetahui manfaat menyusui dan apakah keluarga dekat mendukung untuk menyusui atau tidak. 

- Birth preferences
   Di bagian ini saya diberikan informasi mengenai pemberian vitamin K dan vaksin hepatititis B kepada bayi setelah lahir. 

Setelah hasil rangkaian wawancara di atas telah tertulis di buku rekam medik kehamilan, saatnya bidan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur tekanan darah saat itu, mengukur fundal height atau tinggi dari uterus bagian atas sampai pubic bone, dan juga didengarkan suara detak jantung janinnya. Hari itu pertama kali kami mendengar suara detak jantung bayi kami.. sungguh terharu bahagia.. campur aduk rasanya masyaAllah :") Begitu nyata ciptaan Allah SWT dan begitu luar biasa keajaiban perkembangan bayi kami :") Tak henti-hentinya kami bersyukur diberikan janin yang sehat dan tak kurang suatu apa. 

Untuk pemeriksaan-pemeriksaan berikutnya, pemeriksaan dasar selalu akan dilakukan oleh bidan. Jika dihitung, sampai dengan kami back for good meninggalkan Canberra, kami bertemu dengan bidan sebanyak lima kali. Pertemuan pertama kali diisi dengan wawancara panjang dan pemeriksaan dasar. Oya, di pertemuan pertama juga kami sudah menceritakan rencana kami untuk lahiran di Indonesia. Jadilah kami diberikan informasi-informasi dasar sebagai acuan jika sudah dekat dengan hari kami kembali ke Indonesia. 

Pada tanggal 26 Maret 2018, dengan umur kandungan 21 minggu, kami bertemu bidan lagi. Kali ini saya diberikan pertanyaan tentang keluhan-keluhan yang sedang dialami. Waktu itu, keluhan saya yang sedikit mengganggu adalah seringnya buang air kecil. Untuk melihat apakah ada gangguan, saya diminta untuk buang air kecil dan ditampung air seninya untuk dicek oleh bidan. Alhamdulillah, hasilnya pun normal. Keluhan ini memang pasti dialami oleh ibu hamil, jadilah saya mau tidak mau harus menghadapinya hehe. Selain itu, saya diberikan informasi mengenai rencana pemeriksaan Glucose Tolerance Test (GTT) yang akan dilakukan di umur kandungan sekitar 25 minggu. 

Jadilah pada tanggal 27 April 2018 saya mengunjungi ACT Pathology yang ada di Calvary Hospital untuk melakukan tes GTT. Oh ya, untuk melakukan pengambilan darah di ACT Pathology tidak perlu membuat perjanjian terlebih dulu, jadi bisa langsung datang dan melakukan pendaftaran disana. Sebelumnya, saya sudah diberitahu oleh bidan untuk berpuasa semalam sebelum melakukan pengambilan darah. Namun dengan catatan boleh tetap minum air putih. Pengambilan darah dilakukan sebanyak tiga kali. Setiap pengambilan, hasilnya bisa sampai 2-3 tabung kecil. Pengambilan yang pertama dilakukan sesaat setelah datang. Setelah pengambilan darah pertama, saya diberikan satu botol kecil minuman manis untuk diminum. Kemudian pengambilan kedua dilakukan setelah satu jam saya minum minuman manis tadi. Terakhir, pengambilan ketiga dilakukan setelah satu jam dari pengambilan kedua. Pengambilan darah ini dilakukan di lengan tangan dan hanya tangan kanan saya yang kelihatan nadinya. Jadilah tiga kali pengambilan darah tadi dilakukan di tangan saya yang sama dan lubang yang sama. Huhu masih teringat linunya dan bengkaknya. 

bersambung..